Datacomm Tech Series: DTrust Executive Roundtable Bahas Keamanan Identitas di Era AI
Dalam rangka memperkuat kesiapan perusahaan-perusahaan di Indonesia menghadapi ancaman siber berbasis identitas, DTrust, unit bisnis keamanan siber PT Datacomm Diangraha, menggelar Datacomm Tech Series: DTrust Executive Roundtable pada hari Rabu (15/7) di JS Luwansa Hotel and Convention Center.
Mengusung tema “Securing Every Identity, Enabling Every Opportunity”, acara ini digelar bersama mitra teknologi Okta dan mitra ekosistem Anon Security, menghadirkan tiga pembicara utama, yaitu Paulus Miki Resa Gumilang (MSSP Product Manager DTrust), Ferdinand Gunadi Abadi (Regional Sales Manager Okta), dan Juliana Gozali (Senior Solutions Engineer Okta).
Dari Reseller Perangkat Komunikasi Menjadi Cloud-Centric MSSP
Acara dibuka dengan pemaparan profil PT Datacomm Diangraha oleh Andreas Januar Sutjipto, selaku Product Sales & Marketing GM. Berdiri sejak 1990, Datacomm mengawali bisnis sebagai reseller perangkat komunikasi data sebelum bertransformasi menjadi ICT service provider, dan pada 2022 meluncurkan DTrust sebagai unit bisnis cloud-centric Managed Security Service Provider (MSSP).

“Tembok Kastil Sudah Runtuh”
Memasuki sesi pembahasan topik, Paulus Miki Resa Gumilang membuka pemaparannya dengan sebuah analogi yang menjadi benang merah sepanjang acara, “Tembok kastil sudah runtuh.”

Menurutnya, firewall, jaringan internal, dan perangkat kantor tak lagi cukup menahan serangan di era cloud, kerja jarak jauh, dan ekosistem mitra pihak ketiga. Miki turut mengutip sejumlah data yang menunjukkan meningkatnya risiko serangan berbasis identitas. Sebanyak 88% serangan terhadap aplikasi web melibatkan kredensial curian (Verizon DBIR 2025), sementara rata-rata biaya satu kebocoran data di kawasan ASEAN mencapai US$3,67 juta dengan waktu deteksi rata-rata 241 hari (IBM Cost of a Data Breach 2025).
Ia kemudian memperkenalkan tiga lini layanan keamanan DTrust, yaitu DSEC (Security as a Service), DPRO (Security Professional Services), dan DMDR (Managed Detection and Response), serta produk terbaru, Trust Identity, yang memadukan teknologi Okta dengan layanan kelola dan dukungan lokal DTrust, dibangun di atas empat pilar pertahanan, yaitu autentikasi kuat, kontrol akses tepat, tata kelola identitas, dan jejak audit penuh.
Okta di Panggung Global dan Indonesia
Sesi berikutnya dibawakan oleh Ferdinand Gunadi Abadi, yang memperkenalkan posisi Okta sebagai perusahaan identity security global. Didirikan pada 2009 dan tercatat di NASDAQ sejak 2017, serta berstatus Leader di Gartner Magic Quadrant selama 9 tahun berturut-turut untuk kategori Access Management.

Untuk pasar Indonesia, Ferdinand memaparkan capaian 25+ pelanggan dari sektor perbankan, BUMN, swasta, dan pemerintahan, pengalaman mendampingi kepatuhan KOMDIGI dan OJK, serta ekosistem mitra lokal dalam program Okta Elevate Partner yang turut menyertakan Datacomm dan Anon Security.
Zero Trust Belum Sepenuhnya “Wajib” di Indonesia
Melanjutkan pemaparan Ferdinand sebelumnya, Juliana Gozali membawa peserta masuk ke inti persoalan, bagaimana organisasi bersiap menghadapi ancaman berbasis identitas lewat pendekatan Zero Trust.
Berbeda dengan NIST di Amerika Serikat yang secara eksplisit mewajibkan penerapan Zero Trust Network Architecture (ZTNA), Juliana menilai regulasi di Indonesia belum sedirektif itu. “Kita mungkin satu-dua tahun di belakang, tapi ini sesuatu yang perlu kita ketahui supaya kita siap saat sampai di depan pintu,” katanya.

Menurutnya, esensi Zero Trust sebenarnya sederhana, tetapi masih sering diabaikan. Setiap akses harus dipastikan berasal dari pengguna yang berhak, hanya menuju sumber daya sesuai kewenangannya, serta tetap dipantau selama sesi berlangsung. Dengan kata lain, akses tidak cukup divalidasi sekali di awal lalu dianggap aman selamanya.
Juliana turut menyoroti meningkatnya tekanan tata kelola pada level direksi. “Di Indonesia, kalau ada data breach, direktur bisa berurusan dengan hukum. Di negara lain ada denda sampai 2-3% dari revenue, bahkan tanggung jawab pidana pribadi,” jelasnya.
Ancaman Baru: Shadow AI
Menjelang akhir sesi pemaparan, Juliana menyoroti ancaman baru yang diperkirakan akan menjadi perhatian utama organisasi, yaitu shadow AI. Istilah ini merujuk pada penggunaan AI agent secara mandiri oleh karyawan untuk menjalankan berbagai tugas, seperti mengelola kalender, membaca ringkasan rapat, hingga mengakses data perusahaan tanpa sepengetahuan atau pengawasan organisasi.
“Ada masalah yang namanya shadow AI, mereka bahkan tidak tahu sudah berapa banyak orang yang melakukan ini,” ujarnya.
Menurut Juliana, sebelum membahas solusi, organisasi perlu memahami terlebih dahulu apakah AI agent sudah digunakan di lingkungan mereka, sejauh mana akses yang dimiliki, serta tindakan apa saja yang dapat dilakukan oleh AI agent tersebut. Ia juga mengingatkan bahwa semakin besar kewenangan yang diberikan kepada AI agent, semakin tinggi produktivitas yang dihasilkan. Namun, peningkatan kapabilitas tersebut juga diikuti oleh risiko keamanan yang lebih besar.

Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, Okta mengembangkan pendekatan pengelolaan identitas non-manusia yang dimulai dengan mendeteksi keberadaan AI agent di lingkungan organisasi. Setelah teridentifikasi, AI agent didaftarkan sebagai identitas resmi, diberikan hak akses sesuai kewenangannya, serta ditinjau secara berkala agar hak akses yang dimiliki tidak berkembang tanpa pengawasan. Juliana menambahkan bahwa sebagian kapabilitas tersebut masih terus dikembangkan oleh Okta.
Komitmen Berkelanjutan
Melalui roundtable ini, DTrust bersama Okta mempertegas komitmennya dalam membantu organisasi di Indonesia membangun fondasi keamanan berbasis identitas untuk menghadapi lanskap ancaman yang terus berkembang, mulai dari penyalahgunaan kredensial hingga munculnya AI agent.


Acara kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab, panel diskusi bersama pelanggan Okta, serta spin wheel berhadiah voucher bagi peserta yang mengisi feedback form. Melalui kolaborasi DTrust, Okta, dan Anon Security, roundtable ini menjadi wadah bagi para pelaku industri untuk berdiskusi mengenai tantangan dan strategi memperkuat keamanan identitas di era digital.
